Speech delay merupakan suatu kondisi ketika kemampuan berbicara khususnya pada anak
tidak berkembang sesuai dengan tahapan usianya. Beberapa faktor yang dapat menyebabkan
speech delay antara lain faktor kecerdasan, penggunaan dua bahasa sekaligus di rumah,
kurangnya stimulasi komunikasi, faktor kesehatan, dan adanya gangguan dalam pemrosesan
sensori atau koordinasi motorik.
Tanda-Tanda Deteksi Awal Adanya Gangguan Speech Delay pada Anak bagi Orang Tua:
Menurut Heryani (2020), perkembangan bahasa anak dapat dibagi menjadi beberapa tahap,
mulai dari tahap pra-linguistik (mengenal suara dan bunyi), tahap linguistik awal (mulai
mengucapkan kata pertama), hingga tahap pengembangan tata bahasa yang lebih kompleks.
Berikut ini adalah tanda-tanda deteksi awal adanya gangguan speech delay pada anak yang
perlu diperhatikan oleh orang tua antara lain sebagai berikut:
Usia 0ΓÇö6 bulan:
- Respons terhadap stimulus suara yang kurang
- Bayi tidak melakukan cooing dan babbling serta terbatasnya suara konsonan anak
- Anak kurang mampu menirukan bunyi atau suara dan selalu bergantung pada perintah
Usia 6ΓÇö12 bulan:
- Kurangnya atensi dan gestur interaksi
- Tidak memberikan respons terhadap panggilan nama
- Tidak memahami perintah sederhana
Usia 1ΓÇö2 tahun:
- Perkembangan kosakata yang minim
- Tidak terbentuk kalimat 2 kata
- Tidak mampu menunjuk atau menyebutkan anggota tubuhnya
Usia 2ΓÇö3 tahun:
- Belum mampu merangkai kalimat pendek dari 2ΓÇö3 kata
- Kesulitan mengikuti instruksi sederhana yang diberikan
- Kosakata berkembang jauh lebih lambat dibandingkan anak seusianya
Usia 3 tahun ke atas:
- Pelafalan dan artikulasi kata yang masih buruk sehingga sulit dipahami orang lain
- Kesulitan bercerita atau menyampaikan keinginan secara runtut
- Cenderung menggunakan gestur/isyarat dibandingkan kata-kata untuk berkomunikasi
Apabila anak menunjukkan satu atau beberapa tanda di atas sesuai dengan rentang usianya,
orang tua disarankan untuk berkonsultasi dengan dokter spesialis anak atau dokter spesialis
tumbuh kembang seperti yang ada di Rumah Sakit Umum Ananda Purwokerto, yaitu Dr. dr
Qodri Santosa, M.Si, Med,Sp.A, Subsp.TKPS (K) agar dapat dilakukan pemeriksaan lebih
lanjut sehingga penanganannya lebih optimal.
Selain itu, upaya yang bisa dilakukan untuk mencegah terjadi speech delay pada anak adalah
Okupasi Terapi, yaitu terapi yang berfokus pada kemampuan anak untuk melakukan aktivitas
sehari-hari secara mandiri. Adanya okupasi terapi nantinya dapat meningkatkan kemampuan
motorik halus, adanya perbaikan pemrosesan sensori, peningkatan fokus dan konsentrasi,
serta penguatan interaksi sosial. Beberapa aktivitas yang dapat dilakukan antara lain bermain
permainan yang berfokus pada pengembangan bahasa, menyanyikan lagu bersama, membaca
cerita dengan suara keras, bermain dengan alat musik mainan, aktivitas menggambar dan
mewarnai untuk melatih motorik halus, serta permainan tekstur dan sensori untuk regulasi
sensori.
Artikel Terkait
Belum ada artikel terkait lainnya.
Ingin Konsultasi Dokter?
Daftarkan janji temu dengan dokter spesialis kami secara mudah dan cepat.